Selamat Datang! Di Cafebahasa dan Opini-Bambang Setiawan-Blog Informasi dan Kumpulan Opini-Jangan lupa isikan Komentar Anda demi perbaikan ke depan-Kirim artikel anda untuk diposting-bbg_cla@yahoo.com

Kamis, 05 Juli 2012

Budaya Baca di Tengah Perlawanan Televisi

BUDAYA BACA DI TENGAH PERLAWANAN TELEVISI
(KETIKA BUDAYA TELEVISI KIAN MENANAMKAN PARUHNYA)
Oleh: Taufik Hidayat

       Pulau Sumatera di awal pergerakan kebangkitan memiliki peranan yang sangat penting dalam peta perjuangan melawan kolonialisme di negeri ini.  Banyak tokoh-tokoh  muda anti penjajah yang sangat berani secara tegas melakukan perlawanan melalui pergerakan-pergerakan politiknya. Meski tantangan nyawa harus dihadapi walau penjara pengasingan di Boven Digoel, pulau ujung timur Indonesia itu menunggu, mereka sama sekali tak gentar.  Pusat-pusat pergerakan itu  berpusat pada sentra ruang pendidikan yang ada.  Beberapa kota-kota penting, tumbuh menjadi pusat peradaban pendidikan moderen sekaligus basis pergerakan perjuangan rakyat.  Ada  pendidikan ala Eropa yang dibuka oleh Belanda  (semisal MULO, atau sekolah praja), tidak terbatas hanya sekolah yang didirikan bangsa kolonial semata, sekolah-sekolah rakyatpun  tumbuh salah satunya pendidikan moderenis Islam nasional perguruan Tawalib dan Diniyah di Padang Panjang, Bukittinggi, atau beberapa kota lainnya.  Dimana pusat-pusat  pendidikan ini membuka cakrawala alam berfikir anak muda untuk  mengusung Indonesia satu, Indonesia merdeka.

Apa yang menyebabkan  terjadinya pergolakan dan terjadinya perjuangan menuju cita-cita luhur itu? Barangkali kita semua akan setuju yaitu dengan dibukanya cakrawala berfikir generasi muda zaman itu melalui pendidikan dengan budaya baca, membaca perubahan dan perkembangan zaman.  Koran-koran dan penerbit sudah mulai merebak, merangsang setiap generasi untuk membaca.  Jika di wilayah lain di Indonesia belum seberapa memiliki media-media untuk bacaan rakyat.  Maka di Sumatera, khususnya bagian  Barat umumnya sudah memiliki banyak media bacaan semisal di Padang Panjang sudah terbit  Koran Pemandangan Islam (didirikan Djamaluddin Tamin), Djago-djago (Natar Zainuddin 1923), Koran Signal dan beberapa jurnal seperti Jurnal Islam Al-Munir).  Di Sawahlunto juga terbit Suara Tambang dan Jurnal Panas yang terbitannya hingga mencapai sepuluh ribu oplah, suatu angka yang fantastik untuk melihat semangat baca generasi masa itu.  Tidak hanya itu, di Padang juga terbit koran-koran seperti  Bintang Timoer  dan Timoer Baru. Di Bukittinggi juga bermunculan beberapa penerbit semisal Fort de Kock yang menerbitkan bacaan-bacaan sastra salah satunya Pacar Merah Tan Malaka sebuah novel yang masyur waktu itu menjadi bacaan banyak orang.
.  Gayung bersambut Tan Malaka salah seorang aktivis revolusioner yang melanglang buana dalam pelarian panjangnya ke berbagai belahan dunia juga aktif mengirimi ranah Minang kampung halamannya dengan famplet dan jurnal-jurnal yang ia terbitkan sendiri untuk dibaca agar wawasan saudara-saudaranya di kampung halaman melampaui dunia tanpa batas.  Salah satu fampletnya itu tercetus  ide Nar De Repoeblik Indonesia (menuju republik Indonesia) dalam sebuah brosurnya yang diterbitkan di Canton pada akhir 1924 disebarluaskanya ke saudara-saudaranya di Minangkabau dengan cara terselubung (karena memang sangat dilarang oleh pemerintah kolonial) untuk menuju perjuangan Indonesia Merdeka.
         Dari fragmen sejarah ini, kita menyadari betapa bacaan dan budaya baca ternyata  pada awal masa pergerakan nasional mampu merubah paradigma berfikir generasi waktu itu.  Paradigma pemikir yang mulanya terbelakang, stagnan berubah menjadi progresif dengan melahirkan ide merubah nasib sendiri dengan cara dan tangan sendiri  agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain hidup merdeka sebagai salah satu Hak Azasi Manusia (HAM).  Tidak hanya itu budaya baca juga melahirkan banyak tokoh-tokoh  yang kemampuannya tidak hanya diakui nusantara tetapi dunia.  Misalnya saja Moh, Hatta, Hamka, Agus Salim, Tan Malaka M. Natsir, St Sjahril M. Yamin dan sederet nama lainnya, mereka lahir dan ada memang karena dikaruniai dengan budaya gemar membaca. 
Apa yang penulis ulas tersebut adalah kejayaan masa lalu yang selalu masih menjadi kebanggan kita sebagai orang Indonesia.  Kenyataannya sekarang kita masih dihadapkan dengan berbagai masalah pelik.  Salah satu permasalahan yakni sebuah pertanyaan yang kerap menganggu kita, Masihkah kita dianggap sebagai daerah Industri Otak? Banyak orang Indonesia kasak-kusuk ketika kualitas keintelektualannya mulai diragukan, banyak orang Indonesa mulai gaduh ketika kadar kecerdasannya diyakini memudar ditelan jaman, mereka sudah lemah dan sudah kalah bersaing.
Lagi pertanyaan muncul, kenapa mutu pendidikan Indonesia harus perada di tangga bawah, ironis bukan sebuah negeri yang dulunya termasuk negeri dengan sekolah-sekolah tertua dan tersohor keseantero negeri.  Lihat saja dulu pendidikan di Diniyah Padang Panjang yang santrinya tidak saja berasal dari Minangkabau akan tetapi dari berbagai pelosok negeri hingga Malaysia, Singapura dan Brunai. Hal ini menandakan Indonesia sudah menjadi pusat pendidikan terbaik. Namun  kenyataannya di era sekarang peringkat dan mutu  pendidikan di negeri ini masih pada angka yang belum memuaskan, tentu saja banyak faktor penyebabnya namun demikian tentu secara jelas ada kaitannya dengan budaya baca.
Taufik Ismail dalam sebuah orasi kebudayaannya Membebaskan Anak Bangsa dari Rabun Membaca dan Pincang Mengarang” yang dibacakan pada 23 Desember 2008 silam di DKSB pernah menyatakan keprihatinannya terhadap krisis budaya baca di Indonesia  akhir-akhir ini dengan istilah Generasi Nol Buku, Generasi Rabun Membaca dan Generasi Lumpuh Menulis. Ada beberapa hal mendasar yang dapat saya tangkap dari tulisan (Teks Pidato) Pak Taufik Ismail yang berjudul Secara tegas, cukup berani dan sangat keras (kiranya menurut hemat saya) Pak Taufik Ismail (dan nanti akan disingkat dengan TI) dalam paparan awal pidatonya menyatakan kegundahan, kerisauan bahkan kekhawatiran hatinya akan nasib generasi  Indonesia hari ini dan esok. Beliau menyatakan bahwa beribu-ribu manusia Indonesia yang menamatkan pendidikannya di SMA semenjak pengakuan kedaulatan RI pada tahun 1950 hingga sekarang menjadi “Generasi Nol Buku” generasi yang rabun membaca dan lumpuh menulis.  Nol buku karena tidak mendapat  tugas membaca melalui perpustakaan sekolah sehingga di katakan rabun membaca. Lumpuh menulis karena hampir tak ada latihan mengarang di sekolah.
         Kiranya pernyataan tersebut bukanlah hal yang mengada-ada atau sekedar “sesumbar” TI belaka tanpa ada hal yang mendasari atau alasan yang mendorong beliau pengetengahkan pernyataan itu.  Sebab wacana “Generasi NOL BUKU” dimunculkan TI setelah beliau melakukan serangkaian penelitian, observasi sekaligus wawancara terhadap tamatan SMA di Indonesia sekaligus membandingkannya dengan 13 negara lainnya.  Penelitian itu pun dilakukan TI dalam rentang  waktu yang cukup lama (Juli- Oktober 1997).   Sehingga dimunculkan  beberapa temuan yang cukup mengejutkan.  Bahwa Semenjak Tahun 1950- an hingga sekarang terjadi penurunan yang cukup tajam tentang kewajiban membaca dan menulis di SMA di Indonesia.  Bahkan bila dibandingkan dengan semasa zaman sekolah AMS Hindia Belanda jauh sekali terjadi penurunan akan aspek membaca dan menulis itu.  Pada zaman AMS Hindia Belanda (1939-1942) setiap siswa diwajibkan membaca buku 25 judul dalam masa 3 tahun.  Sementara untuk menulis mereka diwajibkan menulis  1 karangan seminggu, jumlahnya 18 karangan 1 semester, 36 karangan setahun dan 108 karangan 3 tahun. Lalu kita bandingkan dengan masa SMA zaman sekarang bagaimana? TI dalam pidatonya menyatakan bahwa kegiatan mengarang SMA sekarang tidak lebih dari 3-5 kali setahun.  Bahkan banyak SMA yang cuma sekali setahun, ini sangat mengkhawatirkan sekali.
         Apa yang dirasakan Taufik Ismail sangat beralasan sekali.  Apalagi saat ini persoalan minat baca sedang berhadapan dengan serangan dunia televisi.  Barangkali tidak ada yang akan menyangkal kalau dunia hari ini aktivitas membaca seperti mendapatkan pesaing hebat yaitu budaya menonton yang disuguhkan dunia “Si Kotak Ajaib” televisi.  Bagaimana tidak dari kita bangun tidur sampai menutup mata untuk tidur lagi televisi seakan tiada matinya untuk menyuguhkan siarannya.  Dengan cukup membeli sebuah pesawat TV kita seperti sudah membuka jendela dunia, rumah kita seperti terhubung dengan seluruh penjuru dunia. Kita bisa menyaksikan pertandingan kelas dunia liga Inggris sambil mengunyah “kemplang” secara langsung atau menyaksikan peristiwa aktual dunia lainnya hanya di ruangan tamu. Televisi kita sungguh telah menjadi medan magnet luar biasa yang menarik ribuan juta pasang mata untuk betah berlama-lama memandangnya.
Parahnya lagi budaya televisi bagaikan kesetanan di abad 21 ini. Hal ini dibuktikan citraan-citraan dan gambaran hidup di televisi seperti sudah menjadi sesuatu yang penting dan mendasar bagi kita.  Televisi kita hari ini sebagian kalangan bahkan dianggap telah mengolonisasi waktu luang. Lihat saja saluran MTV misalnya yang memunculkan generasi MTV.  Betapa tidak MTV telah jelas menjadi saluran persemaian gaya hidup subkultur kawula muda kita (baca pelajar Red.) yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan dunia hiburan dan dunia pertelevisian (Idi Subandy Ibrahim dalam pengantar Lifestyle David Chaney Jalasutra 2006). Jelas ujung-ujunnya televisi kita seperti merajai dan mempengaruhi bentuk tatanan budaya lain bagi pemirsanya (generasi kita khususnya pelajar) dalam hal ini yang penulis singgung khusus berkenaan dengan budaya membaca.
Data Biro Pusat Statistik menunjukan bahwa masyarakat Indonesia lebih suka menonton televisi dari pada membaca.  Presentasi aktivitas melihat TV tiga kali lipat lebih banyak ketimbang membaca: 65,96% : 22,5 % (BPS, 1993).  Dari data yang sudah diambil pada belasan tahun yang lalu menjelaskan pada kita bahwa budaya menonton ternyata dari dulu jauh lebih banyak dari pada budaya membaca di masyarakat kita.
Dari data yang sengaja penulis ambil dari 19 tahun lalu (ketika masa itu pertumbuhan dunia pertelevisian masih rendah) sudah sedemikian adanya.  Maka saat ini coba anda bayangkan bagaimana pertumbuhan budaya menonton dibandingkan dengan dunia membaca. Barangkali anda akan takjub atau terpana atau entah apa ekspresi anda ketika melihat perbandingan itu.   Dewasa ini ketika dunia teknologi televisi sudah semakin berkembang pesat, ketika izin siaran mudah didapatkan dan ketika kran investasi dunia broadcasting semakin terkuak lebar dan menjadikan lahan ini sebagai bisnis yang menggiurkan.  Tidak heran jika selain televisi swasta nasional, para televisi lokalpun turut ambil bagian mengawali kompetisi liga pertelevisian abad 21 ini.  Lihat saja mulai dari daerah perkotaan (Metropolis) sampai wilayah pelosok desa terpencilpun televisi sudah dapat dinikmati dengan beragam mata acara yang menggugah selera.
Clark Erik Landhuis dari Fakultas Medis Universitas Otago menyebutkan kalau pada dasarnya menonton televisi adalah bukan kegiatan yang baik dalam merangsang pola fikir anak dan remaja.  Dari 1.037 orang yang lahir pada 1972 yang diteliti oleh Clark, terbukti dari mereka kebanyakan mengalami gangguan kosentrasi.  Mereka mengalami gangguan kosentrasi pada saat usia 1-5 tahun yang menghabiskan waktu rata-rata setiap mereka dua jam menonton televisi setiap harinya.
Kronisnnya sekarang setiap stasiun televisi berusaha menyedot jutaan pemirsa dengan berbagai tayangan mereka.  Mereka berjuang menjadi yang terdepan di pangsa dan segmen pasarnya dan merebut tahta dengan embel-embel sebagai televisi pilihan pemirsanya.  Tentu urusan rating menjadi lebih penting.  Lalu apa persoalannya, ketika persaingan siaran semakin memanas maka, kadang kala persoalan-persoalan estetika, moral dan edukasi menjadi urusan nomor dua dan yang penting komersil dulu.  Hal ini jelas akan merugikan masyarakat kita terutama anak-anak dan remaja (pelajar kita).
Televisi  Sepertinya  menjadi sesuatu yang tak dapat dipisahkan dari dunia anak maupun remaja saat ini.  Anak-anak saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi.  Menurut  Studi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dalam KOMPAS, 24 Agustus 2005, menyatakan bahwa pada umumnya lama anak menonton televisi adalah 20-25 jam seminggu sekitar 3-4 jam sehari. Hal intu juga tidak jauh berbeda dengan remaja dan kaum pelajar kita.  Lihat saja betapa menjamurnya tayangan yang di khususkan untuk kalangan anak usia sekolah mulai dari aneka sinetron remaja yang ceritanya kadang sangat tidak logis dan cinderung membodohkan.  Maka budaya menonton akan diprediksikan memiliki dampak negatif terhadap perkembangan anak dan remaja terutama dalam hal minat baca.  Anak-anak  dan remaja akan menjadi malas untuk membaca, akan malas untuk membuka buku-buku pengetahuan ataupun pelajaran.
Kebiasaan menonton akan bisa mengurangi bahkan akan menurunkan minat baca (Belajar), jam bermain, bersosialisasi dengan lingkungan atau berkomunikasi dengan keluarga.  Maka tidak mustahil anak-anak dan remaja usia sekolah saat ini akan tumbuh atas dasar didikan dan pencitraan yang dibawa televisi. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang dipenuhi oleh budaya hidup yang ditawarkan televisi seperti budaya fantasi, imajinasi yang mengurangi daya nalar.
Membaca adalah salah satu bentuk dan indikasi kemajuan suatu bangsa.  Dengan membaca cakrawala berfikir generasi suatu bangsa anak naik.  Kenapa dulu Maka saat ini  sangat tak mustahil budaya membaca akan tergilas oleh budaya menonton televisi.  Pada akhirnya anak-anak dan generasi muda Indonesia akan tumbuh menjadi generasi yang  sensitif,  malas berfikir, malas membaca dan generasi yang serba tertutup dan individualis.  Walaupun televisi juga menyajikan acara-acara yang bersifat pengetahuan namun tak seimbang dengan jumlah tayangan hiburan yang kian semakin menjadi-jadi. 
Kondisi seperti ini juga akan mengakibatkan bentuk-bentuk tatanan nilai baru menjadi tumbuh dan berkembang pada kehidupan generasi muda kita. Mereka kini adalah menjadi sasaran empuk dan potensial dari budaya hedonis (meniru), konsumerisme, budaya instant, dan heroisme yang dangkal.  Generasi muda akan menjadi sasaran petensial dari produk-produk industri, sebuah generasi yang tak luput dari sasaran pasar produk industri (product design). Tidak hanya itu bentuk-bentuk kekerasan dan tayangan kriminal di televisi juga mampu menyedot perhatian anak-anak dan remaja.  Sehingga hal ini berdampak pada kondisi psikologi mereka yang cinderung menjadi individu  yang mudah terjebak dari bentuk kekerasan yang ditayangkan televisi. Generasi itu akan tumbuh menjadi individu yang sensitif, memandang sebuah persoalan menjadi dangkal serta mengurangi waktu mereka untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama mereka.
Barangkali dari segala persoalan, maka menumbuhkan kembali budaya baca pada generasi muda hari ini bukanlah hal yang semudah membalikkan telapak tangan.  Semua pihak harus telibat untuk, mengangkat kejayaan masa silam itu dengan membiasakan budaya membaca.  Pertama tentu dimulai dari keluarga, maka saat ini kita sebagai orang tua harus sadar dan tanggap secara arif dan cerdas menghadapi persoalan ini.  Orang tua seyogianya mengambil langkah penting untuk menyelamatkan anak-anak umumnya generasi muda kita dari pengaruh buruk televisi.  Orang tua anak harus membatasi anak dalam hal menonton televisi.  Kita harus tetap berusaha menumbuhkan dan membina sekaligus terus merangsang minat baca anak terutama buku-buku pengetahuan dan sastra. Kalaupun harus tetap menonton televisi sebagai alternatif hiburan bagi anak maka orang tua yang bijak akan selalu mendampingi dan mengarahkan anak menjadi penonton televisi yang cerdas.
Guru dan dosen di sekolah atau di kampus-kampus juga senantiasa dituntut untuk kembali mewajibkan peserta didiknya membaca buku.  Menugasi mereka dengan tugas-tugas laporan bacaan buku dan membiasan mereka untuk betah di perpustakaan.  Pemerintah tentu juga senantiasa untuk merangsang minat baca siswa dengan terus berupaya menambah koleksi buku-buku perustakaan di sekolah, maupun dengan penyediaan akses perpustakaan keliling bagi masyarakat.
Selain itu peran pemerintah LSM dan terutama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) juga dituntut dalam hal ini untuk lebih aktif lagi.  Pemerintah misalnya melalui perpanjangan tangan KPI juga berhak melakukan pengontrolan terhadap stasiun TV yang nakal dan tidak menindahkan etika pertelevisian di Negara kita.  Jika memang ada pemerintah bisa saja mencabut izinya. Selanjutnya LSM seyogianya juga bisa membantu pemerintah untuk memberikan masukan dan sumbangsih sarannya untuk mengontrol siaran dan dampaknya terhadap masyarakat.  Jika semua langkah-langkah ini dapat kita wujudkan maka tidak mustahil kejayaan orang Indonesia masa silam dapat kita reguk kembali.

Tentang Penulis,
Taufik Hidayat dilahirkan 03 Januari 1982 silam di kota Arang Sawahlunto, Sumatera Barat.  Merupakan alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa Sastra dan Seni  (FBSS) Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 2007.  Semasa kuliah sibuk menggiatkan diri dalam setiap pergerakan dan aksi mahasiswa, aktif dalam aktivitas sastra, teater, seni rupa dan film.
                  Sampai sekarang aktif menulis dan mengisi kolom, puisi, cerpen, artikel di media lokal Jambi, Harian Jambi Independent.Pernah menjadi wartawan di beberapa media massa diantaranya Harian Pagi Posmetro Padang (Jawa Pos Group/Jawa Pos National Network), Redaktur/Reporter Majalah ZEBRA SINGGALANG Ditlantas Polda Sumbar. Sekarang penulis aktif sebagai staf pengajar di SMA Unggul Sakti Jl. P. Antasari no.18. Kelurahan Talang Banjar. Kecamatan Jambi Timur.
Email : fm_pks@yahoo. Com
Kontak Person (HP) 082177262402


Tidak ada komentar:

Posting Komentar