Selamat Datang! Di Cafebahasa dan Opini-Bambang Setiawan-Blog Informasi dan Kumpulan Opini-Jangan lupa isikan Komentar Anda demi perbaikan ke depan-Kirim artikel anda untuk diposting-bbg_cla@yahoo.com

Kamis, 05 Juli 2012

Mencetak Pembelajaran

MENCETAK PEMBELAJAR TANPA BATAS
 Oleh: Yanti Budiyanti

Ujian Nasional SMA, SMP dan SD tahun 2012 telah berakhir, beberapa tes untuk seleksi masuk ke sekolah lanjutan favoritpun telah usai. Sebagian orangtua dan siswa  yang telah mendapat kursi di sekolah favoritnya bisa bernapas lega. Selesai sudah masa masa tegang belajar babak belur siang malam, pagi sore, untuk tahun ini. Selesai sudah masa les bimbel sampai malam hari, berdesak-desakan ikut mencoba beragam try out di GOR yang panas atau menambah pengayaan di kelas-kelas sekolah sampai sore hari. Walau angka yang keluar dari nilai Ujian Nasional tak pernah jelas, setidaknya beban belajar yang harus dipikul tahun ini sudah terangkat. Selesai sudah periode belajar di tingkatan sekolah ini. Kira kira seperti itulah gambaran sistem pendidikan nasional di negeri ini. Proses pembelajaran ditutup hanya dengan UJIAN NASIONAL.   
Lalu setelah itu apa?

Setelah bernapas lega (bagi yang sudah memperoleh sekolah favorit/idaman), langkah selanjutnya adalah masa istirahat. Sebagian orangtua dan siswa/anak masa istirahat ini bisa diisi dengan beragam kegiatan, ada yang mengisinya dengan berbelanja keluar masuk Mall, ada yang mengisinya dengan berolah raga tiap pagi sore, sering jalan dengan keluarga atau teman-temannya ke tempat wisata, berlibur ke luar kota bahkan berlibur ke luar negeri.
Bagi sebagian anak yang telah mengetahui minat dan kesukaannya, masa istirahat sekolah adalah masa paling menggembirakan, karena saat itulah seringkali dia bisa fokus mengerjakan apa yang menjadi minat dan kesukaannya. Sebut saja si A, karena dia telah tahu bahwa menulis cerita adalah minat dan kesukaannya, maka dia akan berkomitmen menyelesaikan proyek bukunya yang ke-8 dalam masa istirahat sekolah ini. Atau si B, karena dia telah tahu bahwa membuat komik dan melukis adalah minat dan kesukaannya, maka dia menargetkan dirinya sendiri kalau proyek melukis di kanvas ukuran 80 x 80 cm akan selesai dalam masa istirahat ini. Atau si C, yang karena telah tahu mencari teman, berkumpul bersama teman adalah kesukaannya, maka dia berkomitmen masa istirahat ini akan digunakannya untuk membuat proyek sosial bersama teman-temannya.

Si A, si B dan si C tetap belajar mengembangkan apa yang menjadi minat dan kesukaannya, walaupun sekolah formal libur. Artinya mereka tetap belajar dan melakukan pembelajaran untuk mengembangkan dirinya. Lalu bagaimana dengan anak yang belum mengetahui apa yang menjadi minat dan kesukaannya?? Apakah mereka lalu berhenti dari proses pembelajaran  untuk dirinya??.

Dalam suatu acara talkshow di televisi swasta terkenal ditampilkan sosok ibu yang berusia lanjut sedang giat mengikuti kuliah desain grafis diantara teman teman kuliahnya yang masih sangat muda. Beliau begitu bersemangat berdiskusi, kuliah dan mengerjakan tugas tugas, padahal saat itu untuk berjalan saja beliau sudah harus memakai tongkat.  Apa yang memotivasi beliau sehingga masih mau menjalani kegiatan pembelajaran seperti itu?

Seorang teman, ibu dari tiga orang anak yang telah menginjak remaja, yang keseharian berprofesi sebagai ibu rumah tangga menyatakan niatnya untuk mengambil kuliah D3 di bidang bahasa Inggris. Alasannya sederhana saja, hanya karena ingin merasakan seperti apa suasana perkuliahan itu (dimasanya, ibu ini tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi karena alasan ekonomi). Tapi semangatnya di saat kuliah, di saat harus menyerahkan tugas tugas kuliah, melebihi teman temannya yang nota bene masih single.

Sekelompok ibu rumah tangga,  bahu membahu membangun suatu Pusat kegiatan Belajar Masyarakat, mereka bersama belajar kembali tentang beberapa hal, agar supaya pusat kegiatan tersebut semakin eksis. Kembali belajar tentang pembukuan, tentang manajemen, belajar menyusun proposal sampai menyusun strategi mencari dana, juga belajar menyelenggarakan suatu event kegiatan.

Di beberapa tempat pengajian, banyak sekali kita jumpai ibu-ibu dan bapak bapak yang sudah berusia tapi masih semangat datang dan mengikuti ceramah atau kajian yang diberikan ustad.  Memang sebagian besar biasanya hanya sebagai peserta pasif, hanya sedikit yang bersungguh sungguh mendengar, menyimak dan bahkan mencatat.

Sementara itu di beberapa Universitas terkenalpun, sering kita jumpai ibu atau bapak yang juga sudah berusia di atas 40 tahunan tapi  masih tetap sibuk dengan statusnya sebagai mahasiswa/i pascasarjana.

Apa kira kira yang melatar belakangi semangat mereka untuk terus “belajar”? pondasi apa yang mereka miliki sehingga usia tidak dijadikan alasan untuk berhenti mengasah otak dan mengembangkan diri?

Di Sisi lain, beberapa jam setelah penulis mendapatkan informasi tentang adanya kegiatan lomba menulis opini untuk guru ini, penulis langsung menghubungi beberapa teman yang kebetulan berprofesi sebagai guru. Ada 2 orang kepala sekolah SD, kepala sekolah Mts, 3 orang guru SMPN,  4 orang guru SDN , seorang guru Mts, seorang guru SLB dan satu orang teman seperjuangan di Sanggar Evergreen.

Dari sekian teman yang dihubungi, beragam respon yang didapat, beragam alasan dilontarkan untuk menyatakan ketidakmampuannya mengikuti kegiatan lomba ini. Sedang berada di kota lain, besok ada rapat dengan kepala sekolah,  besok ada undangan anak atasan yang menikah, tugas  dari sekolah yang belum terkejar, sampai yang beralasan mau lihat dulu bisa atau tidak waktunya.? Padahal mereka semua tahu betapa besar manfaat yang akan didapat bila mau sedikit saja menulis untuk mengikuti kegiatan ini. Tidak harus menargetkan diri untuk menjadi juara yang pertama, tapi sedikit partisipasi sudah menunjukkan semangat terus mencoba dan belajar. Terus selalu menjadi pembelajar.

Dahlan Iskan dalam buku: From Zero to Hero penulis Yaris Setiadi, beliau mengatakan bahwa dalam hal tular menular ilmu, yang dibutuhkan adalah kondisi dimana orang yang bersangkutan harus menyiapkan diri untuk menerima atau di tulari ilmu.

Apakah teman teman guru kita ini sedang dalam kondisi tidak menyiapkan diri untuk menerima atau ditulari ilmu, walaupun profesi kesehariannya adalah menularkan ilmu kepada murid muridnya? Mengapa bisa demikian? Selayaknya profesi guru adalah profesi pembelajar seumur hidup.

Sementara beberapa orang seperti yang disebutkan diawal tulisan, walaupun telah berusia atau kesehariannya hanya ibu rumah tangga, tapi masih memiliki kondisi yang siap untuk menerima atau di tulari ilmu? Apakah latar belakang pendidikan sangat mempengaruhi kesiapan seseorang untuk selalu dalam kondisi siap menerima atau ditulari ilmu? Lalu pendidikan seperti apakah yang menjadikan sosok sosok pembelajar itu ada? 
 
Menurut Munif Chotib dalam buku “Orangtuanya Manusia” beliau mengatakan bahwa ada tiga tempat Pendidikan yang sangat mempengaruhi kesiapan kita selalu dalam kondisi pembelajar (siap menerima dan ditulari ilmu) seumur hidup. Ketiga tempat itu adalah Orangtuanya Manusia, Sekolahnya Manusia dan teman atau lingkungan sekitar yang kondusif.

Orangtuanya manusia, mampu memunculkan jiwa pembelajar sejak anak usia dini, stimulus yang diberikan oleh ibunda kepada Thomas Alfa Edison menjadikannya pembelajar seumur hidup yang pantang menyerah. Begitu juga dengan ayahanda kepada Albert Einstein, pemberian hadiah berupa kompas menjadikannya pemantik rasa ingin tahu yang terus menerus.

Masih menurut Munif Chotib, Apresiasi yang positif dari orangtua atas keberhasilan sekecil apapun dari anak akan menanamkan konsep diri positif sehingga tumbuh percaya diri yang kuat bahwa ‘aku bisa’ dalam mempelajari apapun. Penemuan akan apa yang menjadi kesukaan, minat dan akhirnya bakat anak oleh orangtua sejak kecil, akan menjadikan  anak seorang pembelajar cepat.

Sekolahnya manusia adalah sekolah yang memiliki paradigma setiap peserta didik sebagai anak yang berpotensi, sekolah yang tidak melakukan tes seleksi masuk yang ketat hanya karena sekolah tersebut berharap mendapatkan the best input   siswa yang pandai dan tidak nakal saja, sekolah yang menghargai tiga ranah kemampuan manusia, yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif. Sekolah yang tidak padat oleh beban bidang studi, tetapi bermuatan kreatifitas, problem solving character building, life skill dan unit unit aktivitas yang sesuai dengan bakat anak.

Sekolahnya manusia adalah sekolah yang menyenangkan, tidak membuat siswa tegang dan stress. Sekolah  dengan guru yang mendidik dan mengajar dengan hati dan kesabaran dalam menghadapi siswa dengan beragam kecerdasan. Sekolah dengan guru yang berperan sebagai sang fasilitator dan bersikap sebagai katalisator. Sekolah dengan guru yang mengajar menggunakan multistrategi dan memiliki kreatifitas mengajar.  Sekolah yang memiliki jadwal pelatihan yang cukup berkualitas dan terbuka untuk semua gurunya, tidak pilih kasih pada guru tertentu. Sekolah yang menggunakan penilaian autentik yang memotret ranah kemampuan psikomotorik (kemampuan gerak fisik /ketrampilan), afektif (kemampuan yang terkait dengan nilai dan sikap/emosi) dan kognitif (kemampuan berpikir/inteligensi) anak, yang melihat perkembangan anak/siswa dengan konsep ipsatif yang mengukur perkembangan siswa dari diri siswa itu sendiri berdasarkan pencapaian sebelumnya.

Terakhir, sekolahnya manusia adalah sekolah yang keberadaannya memiliki tujuan untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan agar bermanfaat dalam kehidupan  dunia dan akhirat bagi semua elemen sekolah. Ya  siswanya, ya gurunya, ya pengelolanya, ya orangtua siswanya. Inilah sekolah yang menjanjikan bagi semua elemennya sebagai mahluk pembelajar tanpa batas. Pembelajar seumur hidup.

Dahlan Iskan dan Bob Sadino adalah contoh tokoh hasil produk  dan akhirnya juga memproduk/mencetak jiwa jiwa pembelajar di lingkungannya.  Prinsip Dahlan Iskan yang mengatakan bahwa “ orang yang sering di beri arahan akan menjadikannya bebek, orang yang sering diberi instruksi akan menjadikannya besi, orang yang sering diberi peringatan akan menjadikannya ketakutan dan orang yang sering diberi pidato akan menjadikannya kelak hanya bisa minta petunjuk” mampu menjadikan institusi   Jawa Pos dan PLN sebagai jiwa jiwa pembelajar untuk selalu mengatasi segala kendala di bidangnya, semoga begitu pula saat ini di lingkungan BUMN-nya.

Begitu juga Bob Sadino dengan filosofi “pengusaha gobloknya” (dalam buku yaris Setiadi, hal 184) memiliki makna sangat dalam,  berhasil memposisikan diri dan orang orang disekelilingnya sebagai orang yang selalu ingin belajar, tidak merasa tinggi hati dengan ‘sok tahu’ nya, tidak merasa pintar dengan kesuksesannya. Baginya orang yang sukses adalah orang yang tidak berhenti untuk belajar dan belajar.

Akhirnya.
Semoga penulis beserta keluarga dan anak anak di Sanggar Evergreen bisa selalu, selalu dan selalu menjadi jiwa jiwa pembelajar, menjadi jiwa pembelajar tanpa batas dan diberi kesempatan dan kemudahan dalam mencetak jiwa pembelajar di sekelilingnya. 



Daftar kepustakaan

Dahlan Iskan, Ganti Hati Tantangan menjadi menteri. Kompas Gramedia, Elex Media   
            Komputindo, 2012
Munif Chatib, Gurunya Manusia. Bandung :Kaifa 2011
Munif Chatib, Sekolahnya Manusia. Bandung :Kaifa 2009
Munif Chatib, Orangtuanya Manusia. Bandung :Kaifa 2012
Yaris Setiabudi, Dahlan Iskan from Zero to Hero, Yogyakarta :Buku Pintar 2012

BIODATA PENULIS


Nama                            : Ir. Yanti budiyanti
Tempat tanggal lahir  : Indramayu, 6 Desember 1968
Agama                          : Islam
Pendidikan terakhir   : sarjana ilmu tanah. IPB
Profesi                          : Mentor/pembimbing Sanggar Menulis Evergreen
Alamat                         :  Jalan Kapten. A.Khatib , lorong citra (samping SDN 131) no.    
16    Rt. 12 Kelurahan Pematang Sulur, Kecamatan Telanai 
Pura. Kota Jambi
Karya publikasi          :
1. Adakah Penulis Cilik di Jambi, Jambi Independent
2. Inovasi tiada Henti : meneruskan perjuangan Kartini,  Jambi Ekspres, Rabu 21 April 2010.                                       
3. Hari Bumi dan Fenomena Sekolah Alam, Jambi Ekspres, Kamis 22 April 2010
4. Walk for Autism, Jambi Ekspres, Kamis 07 April 2011
5. Guruku Inspirasiku, Jambi Independent, Senin 03 mei 2010
6. Kelola Sampah, … Berkah, Jambi Independent, Sabtu 23 April 2010
7. Saatnya Perangi Sampah Kota, Post Metro, April 2012

Penghargaan              :
1.    juara II  lomba karya tulis populer BKOW dalam rangka Hari Kartini 2011. dengan judul ‘Menjadi Kartini di Era Globalisasi’
2.    Juara III lomba karya tulis populer BKOW dalam rangka Hari IBU 2011.
Dengan judul ‘Merebas Batas Ekonomi Gender’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar